Friday, September 16, 2011

Minggu-minggu awal di Indonesia

Posted by Ly at 9/16/2011 11:21:00 AM 6 Comments
Kehidupan saya di Indonesia selama 3 minggu ini bisa dibilang menyenangkan. Gimana tidak, selama 3 minggu ini kami masih tinggal dengan orang tua. Mulai minggu depan kami akan tinggal di rumah kontrakan. Mulai minggu depan juga saya akan tinggal dengan 2 anak untuk pertama kalinya. Kata orang sih agak berat, apalagi saya tidak pakai asisten. Tapi bukan berarti sama sekali nggak bisa, kan? Banyak teman saya yang melakukannya di Jepang sana, membesarkan 2 (atau lebih) anak sendiri tanpa asisten, dan mereka bisa menanganinya.

Btw, rumah kontrakan kami cuma beda beberapa gang dengan rumah orangtua saya...ihihihi =P

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Wednesday, August 3, 2011

Anggota Baru di Keluarga

Posted by Ly at 8/03/2011 11:07:00 AM 2 Comments
Repost dari blog saya yang aktif bercerita tentang Bilal&Anas:



Namanya Anas, laki-laki. Lahirnya 3 minggu-an yang lalu di Chiba. Hobinya ngeden, nangis dengan nada yang nyayangin, dan bikin ekspresi2 lucu di wajahnya. Kalau ditanya mirip siapa, yang pasti Anas nggak terlalu mirip mama maupun mas Bilal. Tapi, dibandingkan dengan papa, Anas lebih mirip dengan yangkungnya, papanya papa. Ternyata anak laki-laki nggak harus mirip dengan ibunya yah..

Semua di rumah ini sayang sama Anas. Bahkan kakaknya yang katanya seharusnya cemburu dengan kehadiran "saingan" di rumah, pun nggak kalah sayang sama Anas. Sang adik diciumi, disayangi, dielusi, dipinjami mainan, bahkan disuruh jadi penunggang kuda di punggung sang kakak. Kalau sudah begini, sang kakak terlihat sangat lucu, bikin mama makin gemes.

..dan Mama tetap jadi yang paling cantik lagi dirumah..^_^

Thursday, July 7, 2011

Si Dedek (di perut) Mencari Jalan Keluar?

Posted by Ly at 7/07/2011 11:20:00 AM 4 Comments
Bangun tidur, ku terus difoto Mama...
Ehehehehe, judul yang aneh yah. Itu kata si Papah, gara2nya si dedek di perut ini super aktif!! Lebih aktif daripada kakaknya waktu masih di perut saya. Karena seringnya saya meng "aww" kegelian setiap adek bergerak lincah, Papa nyeletuk, "Nyari jalan keluar kali", langsung deh saya ngakak.

Sebenarnya sudah sejak hampir 2 minggu yang lalu, saya sudah bukaan 1, wow cepet juga yah, pikir saya waktu itu, Lalu seminggu setelahnya, kata dokter bahkan sudah bukaan 3. Waktu saya tanya dokter, "kira-kira kapan yah dok, kalau sudah bukaan 3?" Dijawabnya, "hmm, belum pasti yah, kalau nggak ada kontraksi ya belum tahu". Anehnya setelah keluar dari ruang periksa, saya langsung merasakan kontraksi. Masih lemah, tapi cukup sering. Bahkan si Papa sampai agak panik setelah saya SMS saat itu juga. Malamnya saya tunggu kontraksinya menguat, tapi ternyata besoknya malah hilang! Padahal saat hamil Bilal, saya masuk RS saat bukaan 3, dan malamnya sudah lahiran. Eh sekarang malah, 6 hari setelah tahu bukaan 3, saya alhamdulillah masih dirumah, belum bersiap2 melahirkan di RS (walaupun tas menginap sudah saya persiapkan sejak lama). Bahkan weekend kemarin sempat ikut adik-adik ipar jalan2. Ternyata memang setiap anak berbeda yah, dan perbedaannya itu terasa sejak dalam kandungan, bukan hanya setelah karakter mereka terlihat..

Yang saya sesalkan saat ini adalah, saya nggak bisa ikutan teman2 mempersiapkan acara-acara yang akan berlangsung menjelang ramadhan ini ToT. Ya acara milad Fahima tanggal 10 besok, ya acara akhir bulan ini...ToT. Ngerti sih, teman2 baiik banget, nggak mau merepotkan saya yang lagi hamil buesar dan sibuk packing. Oh, silaturahim dan persaudaraan ini yang pasti akan saya rindukan di Indonesia nanti..ToT..

Saturday, July 2, 2011

決まったんだ

Posted by Ly at 7/02/2011 01:57:00 PM 6 Comments
Insha Allah 今年の8月に。。
インドネシアにback for good。。

*bahasa campur2 yang aneh..=P*

Gempa & Tsunami Jepang, 11 Maret 2011, bagian 3: Hari ke-2, Pantauan dari Layar TV

Posted by Ly at 7/02/2011 01:47:00 PM 0 Comments
Sebenarnya draft ini sudah saya buat sejak lama, tapi baru saya terbitkan sekarang. Mungkain agak basi, tapi daripada cuma jadi draft saja, jadi sekalian saya terbitkan saja..

*******************

Esok harinya, saya terbangun pagi, langsung disambut TV yang masih menyala. Ya, mungkin saya masih agak trauma kalau TV dimatikan, takut ketinggalan berita penting. Seperti dugaan saya, tidur malam itu tak senyenyak tidur pada malam-malam lainnya. Malam itu, beberapa kali saya terbangun lantaran gempa-gempa susulan yang masih terus berlanjut. Mulai dari yang kecil-kecil, hingga yang besar. 

Kini TV tak hanya melaporkan gempa yang telah terjadi, tapi juga memberitakan peringatan gempa. Malam itu saya sempat mendengar bunyi alarm dari TV, lalu disusul peringatan yang berbuyi, "peringatan gempa besar. Akan terjadi gempa berkekuatan besar di daerah ......". Karena hal seperti ini baru saya alami, kontan saya lebih waspada. Tapi alhamdulillah, gempa sebesar hari sebelumnya tidak datang lagi. "kayaknya mesinnya agak rusak, jadi dia nggak pasti gempa yang mau datang itu besar atau kecil," kata Papa.

Pagi itu berita dari daerah-daerah yang terkena tsunami sudah disiarkan lebih lengkap di berbagai saluran TV. Propinsi Fukushima, Miyagi, Iwate, khususnya daerah Minami Sanriku, Rikuzen Takata, dan beberapa daerah lain mengalami kerusakan parah. Pemandangan di TV menunjukkan gambar-gambar yang tak jauh berbeda dengan Sumatra pasca Tsunami. Bongkahan-bongkahan kayu berserakan tak beraturan. Mobil-mobil terseret ke satu arah. Kapal berdiri tegak diatas sebuah gedung yang agak rendah. Lantai 2 sebuah rumah kini berada di lantai satu, dengan keadaan tidak sempurna, tentunya. Semua jalan tertutup sampah, sampah sarat kenangan bagi para korban. 

Selain gempa dan Tsunami, ada satu hal lagi yang membuat masyarakat Jepang berdebar-debar kalau menonton TV: kerusakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima yang terletak di pinggir laut akibat tsunami. Bukan sekedar kekurangan tenaga listrik yang dikhawatirkan, tetapi kebocoran radiasi nuklir yang muncul setelahnya. Dalam sejarah, ada dua tragedi yang disebabkan oleh kerusakan PLTN, yaitu tragedi chernobyl di Ukraina pada tahun 1986 dan tragedi Three Mile di Pulau Three Mile, Amerika pada tahun 1979

Masya Allah, Allah hanya menggerakkan sedikit saja lempeng di lautan, tapi akibatnya begitu besar bagi manusia. Hanya Allah yang tahu, mengapa hal ini terjadi. Mungkin Dia ingin menunjukkan kekuasannya pada masyarakat Jepang. Mungkin setelah ini Jepang akan mendapat hidayah untuk masuk Islam? wallahu alam bisshowab

Thursday, May 26, 2011

Untukku, untuk Indonesiaku

Posted by Ly at 5/26/2011 12:15:00 PM 5 Comments
Bilal & Papa @ Doraemon's Scientific Future Museum, Odaiba, Tokyo. 02Aug2010
Meskipun belum tahu kapan, tapi saya sudah membayangkan tinggal di Indonesia, menjalani real life. Ya, menurut saya tinggal di Indonesia adalah real life bagi kami, karena suatu saat nanti kami akan pulang ke tanah air for good, untuk selamanya.

Yang menjadi pikiran saya akhir2 ini adalah, kami harus "melakukan" sesuatu di Indonesia nanti, untuk Indonesia.  Idealnya sih ingin membangun perusahaan agar bisa mempekerjakan orang, membuka lapangan pekerjaan. Tapi, kalau pulang langsung buat perusahaan, rasaya agak berat, belum ada ilmunya, apalagi dananya =P. Jadi mungkin nanti mau usaha kecil-kecilan, sambil belajar kecil-kecilan dengan harapan, yang saya pelajari itu nanti  akhirnya bisa mendidik orang dengan ilmu saya itu.

Banyak yang bilang, kenapa saya tidak buka kursus bahasa Jepang saja, nanti. Toh saya lulusan sastra Jepang, plus pernah praktik bahasa Jepang di negara asalnya selama beberapa tahun. Tapi saya pikir, sudah banyak kursus2 bahasa bertebaran di Indonesia, sudah banyak juga yang bisa bahasa Jepang. Kalau saya asal buka kursus saja, nanti takutnya hanya akan jadi kursus ecek-ecek yang setengah-setengah dalam membagi ilmunya. Jadi kalau mau buka kursus, pengennya sih kurikulumnya nggak biasa, alias luar biasa *hayyah*.

Kepikiran juga untuk nerjemahin buku bahasa Jepang. Terus terang saya ada "dendam" berkaitan dengan ini. Dulu waktu masih kuliah, pernah ikut ujian menerjemahkan komik di salah satu penerbitan yang cukup ternama di Indonesia. Dua kali saya ikut tes, dua kali juga saya gagal. Yang pertama katanya terjemahan saya terlalu literal, sedangkan yang kedua katanya terlalu bebas. Hihihi, jadi sampai sekarang saya masih penasaran ingin membalaskan "dendam", alias ingin lulus di ujian penerjemahan komik di perusahaan itu. Tapi rencana ini belum benar-benar ingin saya laksanakan untuk saat ini.

Beberapa teman bilang, bahwa sekarang yang sedang boom di Indonesia adalah bisnis online. Jualan barang-barang secara online. Bahkan beberapa teman dekat saya ada yang sedang usaha ini. Yang dijualnya macem2, mulai dari perlengkapan anak, perlengkapan muslim, sampai asesoris-asesoris. Terus terang, saya ingin lebih dari itu, tidak hanyak sekedar berjualan, mengambil barang dari penyalur lalu menjualnya ke konsumen. Saya ingin mempelajari sesuatu hingga mahir dan ahli, lalu menjualnya. Nah, ada beberapa yang terpikirkan:
  1. Kerajinan Flanel. Duluuuu pernah suka, bahkan bahan-bahannya masih ada, tapi belum tersentuh ! (sedang dalam tahap penyentuhan...=P)
  2. Crocheting. Kalau yang ini, cuma karena dirumah ada beberapa buku yang saya beli untuk mama, tiba-tiba ingin coba, tapi ternyata tidak mudah..jadi sepertinya pass dulu.
  3. Membuat tas. Entah kenapa saya suka lihat tas, untung uang saya nggak berlebih, coba iya, bisa sering beli tas deh saya. Nah, pengen buat tas dengan desain saya sendiri deh..
  4. Patchworking. Tertarik ini gara-garanya nanti pengen bikin karpet sendiri untuk anak-anak. Hmm, ngumpulin bukunya dulu aja kaliyah..
Eh? kenapa nggak balik kerja kantoran aja? Mungkin ada yang berpikiran seperti itu. Dulu juga sebelum menikah saya pernah kerja kantoran selama 3 bulan (ngisi waktu sambil nunggu hari H pernikahan..ehehehe). Tapi sepertinya untuk sementara ini belum ada pikiran untuk kembali ke kantor. Ceritanya nggak mau ngelewatin milestones anak-anak saya, ehehehehe.

Begitulah sekilas brainstorming hari ini. Semoga nggak hanya jadi rencana. Semoga bisa terrealisasi. Semoga bisa berguna buat Indonesia q(^o^)p

Monday, April 25, 2011

Anak-anak dan Kisah Nabi Muhammad SAW

Posted by Ly at 4/25/2011 12:41:00 PM 2 Comments
Diambil tanpa sepengetahuan sang model. April 2011
Alhamdulillah sekarang hampir setiap malam, Papa selalu bercerita tentang siroh Nabi Muhammad SAW. Sumber ceritanya Papa dapat dari buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury (eh? ternyata ada versi ebooknya yah?). Jadi, Papa bawa buku itu ke kantor, dibacanya di perjalanan berangkat dan pulang ke kantor di dalam kereta. Lalu malamnya sebelum tidur, Papa ceritakan ke saya, Bilal, dan Adek di perut. 

Terus terang saya sangat menikmati sesi ini. Saya jadi tahu banyak tentang siroh nabi Muhammad. Cerita-cerita yang sering saya dengar juga dituliskan dalam buku itu. Bahkan ada juga pembenaran dari cerita yang sering didengar. Isinya cukup detail tentang hidup Rasulullah dan sepak terjang beliau (dan para sahabat) dalam berdakwah di awal masa kenabian beliau. Saya makin sayang sama Rasulullah SAW.

Saya kira, hanya saya yang menikmati sesi ini. Ternyata anak-anak juga!. Bilal hampir selalu menagih setiap mau tidur, "Nabi Ammad?". Tidak hanya tidur malam saat sama Papa, tapi juga saat menjelang tidur siang (hiks, maaf yah sayang, Mama belum baca bukunya, jadi kalau siang, tidak ada cerita baru tentang nabi Muhammad). Kalau lagi mau suatu cerita yang khusus, Bilal request sendiri, "Nabi Ammad? Gajah? Hujan?", minta cerita saat Perang Gajah, atau cerita tentang nabi Muhammad yang ada hujannya.

Dan ternyata, si kecil yang di perut saya juga (sepertinya) suka ! Setiap Papa cerita, si kecil "mengelus-elus" (saya lebih suka kata-kata ini daripada "menendang") semakin heboh dari dalam. Apalagi semalam! Saat Papa cerita tentang Perang Uhud (Bilal sudah tidur), si kecil "mengelus" dengan kencang dan sering! "Tenang sayang, belum selesai ceritanya, umat muslim juga dapat banyak hikmah koq sayang, dari Perang Uhud," kata Papa, menenangkan adek kecil di perut saya. Saya nggak tahu sih, ini kami saja yang menyocokkan atau memang si kecil senang dibacakan cerita, tapi saya ingin percaya kalau si kecil juga suka dibacakan cerita, apalagi tentang teladan kita, nabi Muhammad SAW.

Wednesday, April 20, 2011

Kalau Doa Belum Terkabul...

Posted by Ly at 4/20/2011 08:49:00 PM 2 Comments
Spring, 2011
 "Kalau Allah belum memberi yang kita minta, mungkin Allah ingin terus mendengar doa-doa kita. 
Seandainya Allah belum mengabulkan doa-doa kita di dunia, mungkin Allah akan membri yang terbaik kepada kita di akhirat nanti.
Allah menyukai hambanya yang selalu meminta, yang selalu berdoa padaNya.
Jadi banyak-banyaklah meminta, karena Allah tidak akan membatasinya, dan tidak akan habis pemberianNya"
(Kutipan dari seorang saudari tercinta <3)

Friday, April 15, 2011

ママともの世界、地獄?天国?*

Posted by Ly at 4/15/2011 04:40:00 PM 0 Comments
*Mama-tomo no sekai, Jigoku? Tengoku? (Dunia Mama-tomo, sebuah Neraka? sebuah Syurga?)

Mama = ibu/mama.
Tomo = singkatan dari Tomodachi (teman)

Mama-tomo adalah pertemanan antara para ibu yang memiliki anak kecil, baik bayi, maupun balita. Hubungan mama-tomo terbentuk dari playground, TK, maupun para ibu yang sering main di taman. Ciri khas dari pertemanan ini adalah, panggilan yang digunakan antar para ibu bukanlah dengan nama mereka (sumber: link ini). Misal, saya memanggil Pipit, sahabat fans saya =P, bukan dengan panggilan "Pipit", tetapi dengan panggilan "Mamanya Nara". 
 
Hmm, tentang yang terakhir (panggilan nama anak) mungkin ada juga yah di Indonesia, tapi istilah mama-tomolah yang mungkin nggak ada di Indonesia. Di Jepang sendiri, menurut saya dunia mama-tomo adalah seperti sebuah momok untuk seorang "ibu baru". Kenapa saya bilang begitu? karena tidak sedikit drama yang bertemakan tentang ini, tentang hubungan para mama-tomo yang bercerita demikian. Dalam drama-drama itu, sang pemeran utama biasanya adalah seorang pendatang baru di suatu lingkungan, yang juga seorang ibu yang baru menyekolahkan anaknya di TK, jadi mereka baru pertama kali terjun ke dunia mama-tomo. Drama-drama yang bertemakan mama-tomo ini kebanyakan bercerita tentang betapa "mengerikan"nya dunia mama-tomo. Ijime (penindasan) tidak hanya ada di antara anak di sekolah, tapi juga di antara para mama-tomo

Bahkan, di salah satu drama baru yang bertemakan mama-tomo, ada kutipan dari salah satu tokohnya, "persahabatan dalam mama-tomo itu tidak ada. Mereka disatukan hanya karena anak-anaknya kebetulan satu sekolah dan teman main". Bahkan di akhir episode drama baru tersebut, si tokoh yang kata-katanya saya kutip diatas berakhir bunuh diri, konon karena tidak kuat oleh ijime teman mama-tomonya.

Hmm, serem juga yah kalau benar seperti itu. Kalau saya tanya teman-teman disini yang sudah berpengalaman menyekolahkan anaknya, ada yang bilang, memang orang Jepang itu tidak bisa benar-benar terbuka pada orang lain, lain di depan lain di belakang. Ada juga yang bilang, pertemanan dalam mama-tomo tidak seseram itu, dia bahkan punya (walaupun hanya) satu teman mama-tomo.

Saya tidak tahu seperti apa pertemanan antara mama-tomo di Indonesia nanti, walaupun mungkin hubungannya tidak bisa sedekat teman kuliah atau teman sekolah dulu (karena bagaimanapun yang mempertemukan mereka adalah anak-anaknya), semoga tidak seseram yang digambarkan dalam drama-drama di Jepang sini. 

Naresha, Bilal, Aksa, Raika @ Mbak Mel's Apartment (13.04.2011)

Setidaknya pertemanan antar mama-tomo sesama orang Indonesia disini cukup hangat. Mungkin karena kami sama-sama orang asing di lingkungan asing, jadi merasa punya latar belakang yang sama. Bahkan hari rabu kemarin saya baru main ke rumah salah seorang senior yang mempunyai anak berusia 3 tahun kurang, disana saya bertemu juga dengan teman-teman yang anak-anaknya hampir seumuran, bahkan ada juga satu orang yang baru saya kenal. Dan alhamdulillah, disini mudah sekali untuk dekat dengan orang Indonesia, walaupun baru dikenal...mungkin ya itu tadi, karena kami sama-sama orang asing di negeri asing.

Friday, April 8, 2011

Resensi Buku: Mommy Told Me Not To Tell, By: Cathy Glass

Posted by Ly at 4/08/2011 04:26:00 PM 0 Comments
Addicted.

Ya, mungkin itu satu kata yang cukup menggambarkan perasaan saya sekarang, setelah membaca novel ini. Novel ini sendiri mungkin tidak sehebat itu sehingga bisa membius saya untuk sampai kecanduan dan ingin segera membaca novel bahasa inggris yang lain. Lihat kata-kata yang saya garis bawahi dalam kalimat saya diatas? ya, novel bahasa inggris yang lain

Seperti sudah tahunan rasanya saya melupakan perasaan itu, perasaan tenggelam dalam dunia yang ada dalam sebuah buku. Dulu saat masih kuliah, saya suka baca novel. Bahkan Taiko karya Eiji Yoshikawa terjemahan bahasa Indonesia yang tebal dan beratnya mungkin cukup untuk membuat copet benjol kalau kena timpuk, bisa saya selesaikan dalam waktu yang cepat (hiks, sekarang bukunya dimana yah..adakah yang merasa pinjam??). Tetapi sejak menikah dan tinggal di negeri berbahasa Jepang ini, saya seperti lupa nikmatnya menjadi bagian dalam sebuah cerita di sebuah buku. Bukan, bukan karena saya sibuk mengurus anak atau suami. Suami saya tidak gendut, dan anak saya termasuk kurus, jadi untuk apa dikurusi? Ehehe, bukan itu maksudnya. Kewajiban sebagai seorang istri dan ibu insya Allah bisa dijalankan bersamaan dengan melaksanakan hobi, apalagi hobi membaca buku. Tetapi entah kenapa, kesibukan yang nggak jelas bentuknya membuat saya jauh dari buku. Pernah beberapa kali saya menamatkan beberapa buku bahasa Jepang disini, tapi tetap saja, hanya sekedar buku ringan, bukan novel, karena saya "takut" tidak bisa mengerti kanjinya dengan benar. 

Sudah, cukup intronya, sekarang lanjut ke resensi buku ^_~



cropped from a bigger picture =P
Mummy Told Me Not To Tell
Awalnya saat membaca judul dari buku ini, saya merasa ceritanya agak sedikit depresif, seperti A Child Called It karya Dave Pelzer. Kedua buku ini mungkin sama-sama diangkat dari sebuah kisah nyata seorang abused child oleh keluarganya sendiri. Tetapi, berbeda dengan A Child Called It yang banyak menceritakan bagaimana sang anak disalahgunakan (saya tidak bisa menemukan terjemahan yang lebih tepat untuk "abused") oleh orang tuanya, bagaimana penyiksaan orang tua kepada sang anak, Mummy Told Me Not To Tell lebih bercerita dari sudut pandang seorang foster carer, seorang pengasuh anak sementara dalam waktu yang ditentukan.

Cathy Glass telah menjadi seorang foster carer selama lebih dari 20 tahun. Cathy telah mengasuh berbagai macam anak dengan berbagai macam latar belakang dan keluarga, karena itu dia adalah seorang profesional dalam bidangnya. Maka mungkin hal ini yang membuatnya dipilih untuk mengasuh Reece (7th), seorang anak dengan latar belakang yang kelam, dan keluarga yang cukup bermasalah, oleh agennya. Sebagai seorang carer yang berpengalaman, Cathy mengerti bahwa setiap anak spesial, dan menerima mereka apa adanya. Adalah keluarga dan lingkungan yang membentuk pribadi anak, meskipun setiap anak mempunyai sifat bawaan masing-masing. Cathy merawat dan mendidik anak-anak yang dipercayakan padanya dengan kasih sayang dan kedisiplinan yang konsisten. Begitu juga terhadap Reece. Reece yang awalnya agak 'bermasalah', perlahan-lahan menjadi 'terarah' dalam asuhan Cathy.

Perkembangan yang terjadi pada diri Reece, latar belakang keluarganya, penerimaan lingkungan (sekolah) terhadap Reece, serta akhir dari pengasuhan Cathy terhadap Reece diceritakan buku ini dengan bahasa yang mudah. Saya pernah menemukan novel berbahasa inggris yang lebih sulit dari ini (dan belum saya selesaikan sampai sekarang!! ehehehe, ketinggalan di Indonesia soalnya..). Tidak hanya alur cerita yang saya dapat dari buku ini, tapi juga pelajaran mendidik anak dari seorang pengasuh yang berpengalaman.

Buruan selanjutnya: Damaged, masih karya Cathy Glass ^_^ (kemarin ada juga di Kinokuniya, tapi karena takut nggak kebaca kalau beli kebanyakan, jadi belinya satu-satu..)

Wednesday, April 6, 2011

Kalap di Kinokuniya Pusat, Shinjuku

Posted by Ly at 4/06/2011 05:13:00 PM 4 Comments
klik gambar untuk tampilan lebih besar

Maksudnya benar-benar kalap !!

Misi ke Kinokuniya kali ini adalah beli buku bahasa Inggris untuk Bilal. Sudah lama saya ingin "berburu" buku anak berbahasa Inggris di Kinokuniya, kebetulan weekend kemarin kami masing-masing nggak ada acara khusus, jadi direncanakan ke Kinokuniya pusat di Shinjuku. Iseng-iseng cari sale/bazarnya Kinokuniya, saya browse situs Kinokuniya, ternyata kebetulan tanggal 2-3 April 2011 lalu ada bazar buku asing murah, bazar amal untuk tragedi bencana Jepang Timur lalu. Karena tanggal 2nya saya sudah ada janji dengan dokter kandungan, jadi "pemburuan" kami nggak bisa benar-benar maksimal. Akhirnya, dengan persiapan hati bahwa buku anak di bazar sudah habis dibeli orang, kami berangkat ke Shinjuku tanggal 3, hari minggunya. Dan benar, sebagian besar buku anak yang tersisa kurang menarik, alhamdulillah kami dapat 4 buku anak; 1 salah beli, 1 untuk Bilal, dan 2 lagi untuk adek di perut ^_^;.

Pemburuan kami lanjutkan ke lantai 7 Kinokuniya Pusat di Shinjuku itu, lantai khusus buku berbahasa asing. Dan saya benar-benar senang berada di sana, seperti berada di ruang harta karun! Akhirnya kami memborong 11 buku anak, 2 buku untuk Papa, dan 1 buku untuk saya. Agak mahal memang, tapi insya Allah saya tidak menyesal (kecuali 1 buku yang saya beli di bazar tadi), dan belum puas *cengir*, apalagi Bilal suka dengan beberapa buku yang kami beli, padahal 3 dari buku anak yang kami beli adalah untuk anak 3 tahun keatas..

Karena semua buku cukup berat kalau langsung dibawa pulang, akhirnya kami minta dikirim ke rumah, dan membawa pulang beberapa buku saja untuk bekal di kereta. Dan akhirnya kemarin paket itu tiba ^o^ ^o^. Seperti biasa, Bilal selalu senang menerima apa saja yang dibawa kurir, apalagi kali ini kurir mengantarkan paket yang cukup besar dan berat.

Ini list buku yang kami beli:
  1. Picture Atlas (Lift-the-flap, Usborne)  -> pilihan Papa
  2. Jobs People do (By: Jo Litchfield and Felicity Brooks, Usborne) -> direkomendasikan teman
  3. Science (Look inside, Usborne)
  4. Let's Help The Earth (Sesame Street)
  5. Thomas And The Hide-And-Seek Animals (Thomas & Friends)
  6. I Am a Fire Truck (Scholastic) -> pilihan Papa
  7. Happy Easter, Sprinkles (Blue's Clues) ->; dari bazar
  8. Big Trucks and Diggers (Hide and seek, Caterpillar) -> dari bazar
  9. Animals (Baby touch and feel, DK Publishing)
  10. Busy Little Harbour (With Felt Flaps, Campbell Books) -> dari bazar
  11. Playtime (touch and feel, Priddy Books) -> dari bazar
  12. Understanding Business Accounting for Dummies -> dari bazar
  13. 経済のことよくわからないまま社会人になってしまって人へ (By: 池上彰, 海竜社)
  14. Mummy Told Me Not To Tell (By: Cathy Glass, Harper Collins)
Maaf, tidak semua judul buku diatas ada linknya. Silahkan cari, kalau anda ingin tahu seperti apa bukunya. 

Buku no.1-3 untuk anak umur 3 tahun keatas. Bilal suka buku no.2 dan 3 (buku no.1 masih dibungkus plastik, dan nggak saya buka dulu sementara ^_^;). Rencananya mau memberi 3 buku itu sebagai hadiah untuk Bilal nanti kalau usianya sudah cukup, sambil terus dibacakan, itu juga kalau Bilal mau saja. Buku nomer 4-6 dan 8-10 juga Bilal suka. Papa suka dengan buku karya Ikegami Akira, 'memang mudah dimengerti', katanya. Saya juga tidak menyesal dengan novel non fiksi pilihan saya (Mummy told me not to tell). Tapi yang saya paling senang tentunya adalah, Bilal suka dengan buku-bukunya ^o^ ^o^. Mudah-mudahan ada rejeki lagi untuk membelikan buku untuk Bilal dan adik-adiknya, jadi bisa mendekati mimpi saya untuk punya perpustakaan kecil-kecilan di rumah nanti..^o^

Saturday, April 2, 2011

Our Own Time

Posted by Ly at 4/02/2011 10:59:00 AM 0 Comments
2010, autumn







Yah, waktu untuk diri kita sendiri. Kenapa saya tiba-tiba ngomongin ini? karena akhir2 ini saya "baru sadar" kalau saya secara tidak sadar (jadi sebenernya sadar ato enggak, nih? ^_^;) berusaha membuat waktu untuk diri sendiri.

Saat kita menjadi seorang Ibu, "usia keibuan" kita juga seumur dengan usia anak kita. Kalau anak kita berumur 1 tahun, berarti kita juga baru berumur 1 tahun sebagai seorang Ibu. Kita maupun anak sedang sama-sama belajar menjadi manusia baru. Bedanya, kita bisa mempelajari ilmunya dari berbagai sumber, sambil disertai trial and error, sedangkan anak kita hanya belajar dari pengalaman, trial and error. Karenanya, tugas kita sebagai ibu adalah membimbing si anak mempelajari perannya.

Menurut saya, seorang ibu baru benar-benar menikmati perannya sebagai seorang ibu hingga sang anak berusia 1 tahun lebih, atau hampir 2 tahun. Bukan, bukan berarti setelah usia anak 2 tahun, seorang ibu mulai bosan dengan perannya, apalagi bosan dengan anaknya. Semua pengalaman yang dialami si ibu adalah hal baru, dia akan mencoba belajar sambil mempraktikkan hal-hal baru itu sampai suatu masa tertentu. Pada suatu masa, saat seorang ibu mulai terbiasa dengan perannya, mulai bisa curi-curi waktu untuk menyelami kembali hobi-hobinya. Dan masa itu adalah ketika si anak berusia 2 tahun, ketika si anak mulai mandiri, juga ketika si ibu mulai lihai menjalani perannya.

Seperti yang sedang saya alami. Akhir2 ini saya mulai kembali menyelami hal-hal yang sebelumnya pernah saya sukai, hobi-hobi kecil yang saat melakukannya membuat saya lupa waktu.

Bukan berarti sebelumnya nggak bisa sama sekali sih. Sebelumnya, saat jam tidur Bilal masih teratur, saya selalu memanfaatkan jam tidur Bilal itu (yang ternyata nggak pendek!!) untuk hobi-hobi saya. Tapi akhir2 ini saat Bilal mulai besar, jam tidurnya nggak lagi teratur. Kadang siang tidur, kadang enggak. Kadang tidurnya pas tengah hari, kadang sore hari. Jadi sekarang saya harus pintar-pintar mencuri waktu. Bahkan, waktu setelah Papa pulang kantor juga bisa saya manfaatkan, karena Bilal pasti ingin main dengan Papanya, sepulang  kantor (habis kalau main sama mama nggak bisa diangkat-angkat siiyy..=P). Seperti saat ini, Papa sedang ke THT, minta obat untuk pollen allergynya sambil mengajak Bilal, nah waktu seperti ini bisa saya manfaatkan untuk beres-beres sambil menulis ^o^ (tapi koq kelamaan nulisnya nih kayaknya..).

Jadi kesimpulannya, meskipun kita sudah berkeluarga dan memiliki anak, sebaiknya kita bisa tetap menjalankan hobi-hobi kita. Nanti bukan hanya kita yang akan untung, tapi juga anak dan suami. Karena kalau kita suntuk dengan pekerjaan rumah, yang akan "kecipratan" suntuk dari kita adalah suami dan anak kita juga. Tapi, jangan sampai kita berlebihan jugaa menjalankan hobi-hobi kita, bisa-bisa nanti keluarga kita terlantar..^_^

Btw, pendapat saya ini adalah pendapat seorang ibu yang nggak dibantu asisten dirumah, saya nggak pernah pakai asisten (gimana caranya pakai asisten rumah di sini?? ^_^;), jadi mungkin beda lagi untuk ibu yang dibantu asisten..^_^

Wednesday, March 30, 2011

Tofu Hanba-gu*

Posted by Ly at 3/30/2011 07:08:00 PM 0 Comments
* Hanba-gu Tahu.

Ceritanya mau masak itu, tapi entah kenapa sampai sekarang masih agak males berangkat ke dapur. Dingiiiin (padahal tadi siang anget T_T).
Yosh, ayo masaaaakk..!! secara udah dapet bocorannya juga dari cookpad. Mau tau resepnya? nanti dulu yah, saya coba dulu di dapur Shioyaki..^_^

Maaf, tiba-tiba saya tidak bersemangat menulis resepnya, jadi nggak jadi saya share yah..v_v

うそ?ほんとう?
(Uso/False? Hontou/True?)

Posted by Ly at 3/30/2011 10:10:00 AM 4 Comments
2010, summer festival
うそ?ほんとう?
Makan yang gosong-gosong bisa menyebabkan kanker?

うそ?ほんとう?
Baca di tempat yang gelap bisa merusak mata?

Berhubung yang tadi minta dimandiin udah tidur siang, jadi, mari kita lanjutkan pembahasan postingan ini..(berasa banyak nyang nungguin ajah..=P)

Makan yang gosong-gosong bisa menyebabkan kanker.....jawaban anda? True? False?
Yep, anda benar, It's True !!
Tapi, itu benar secara teori. Sedangkan praktiknya, sepertinya belum ada yang benar-benar meneliti tentang hal ini.

Baca di tempat yang gelap bisa merusak mata?.....jawaban anda? True? False?
Sayang sekali, kali ini anda salah, It's not true !!
Menurut para ahli, belum ditemukan hubungan antara membaca di tempat yang gelap dengan mata yang rusak, bahkan katanya rumor ini tidak benar. Tapi, kata dokter yang menjawab, meskipun tidak merusak mata, membaca di tempat yang gelap tidak dianjurkan untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Sebenarnya masih banyak pembetulan dari rumor2 yang beredar di acara yang saya tonton, tapi saya lupa euy..ingetnya sepotong2 aja..ga enak kan kalau ngasih info setengah2..nanti takutnya cuma jadi gosip..^_^;

Sumber : TV, dibahas langsung oleh para ahlinya.
Hmm, mungkin satu hal yang akan saya rindukan kalau saya pindah dari Jepang for good adalah acara-acara pendidikan yang bertebaran di TV sini. Yah, semoga suatu saat nanti banyak acara TV yang mendidik di Indonesia, biar nggak melulu sinetron sinis atau gosip nggak penting yang bertebaran di TV Indonesia..

Tuesday, March 29, 2011

Gempa & Tsunami Jepang, 11 Maret 2011, bagian 2: Gempa Terbesar Sepanjang Hidup Saya (sampai saat ini)

Posted by Ly at 3/29/2011 02:52:00 PM 6 Comments
Belum sempat mengendarai sepeda, pintu rumah dibuka dari luar, "Cinta, ada yang ketinggalan...."
(Selengkapnya, baca: "Gempa & Tsunami Jepang, 11 Maret 2011, bagian 1: The Beginning)

Tak lama setelah Papa membuka pintu rumah, bumi bergoyang. Kami saling menatap selama beberapa saat, seakan mata kami bercakap-cakap dalam hening kata-kata. Kami menunggu, menunggu bumi berhenti bergerak. Gempa bukanlah hal yang jarang ditemukan di Bumi Sakura ini, hampir jadi sarapan rutin bulanan kami, karenanya, kami menunggu gempa itu berhenti sambil saling bertatap. Lama kami menunggu, bukannya melemah, gempa itu malah semakin kuat. Tanpa sadar, saya sudah memeluk Bilal, berjaga-jaga seandainya kami harus mengungsi keluar rumah.

"Cinta, ayo keluar, bawa selimut dan jaket Bilal."  Seru Papa tanpa menyembunyikan kekhawatirannya.

Untung saja saya belum sempat berganti pakaian, bahkan jaket musim dingin masih melekat di tubuh saya. Bilal pun baru melepaskan jaketnya saja, belum berganti baju rumah, jadi segera saja  saya gendong Bilal, saya sambar jaket dan sepatu Bilal, saya kenakan sepatu saya, lalu keluar rumah, menunggu bumi berhenti bergoyang. 2 menit, 3 menit, bumi masih terus bergoyang. Tetangga pun mulai keluar rumah. Kakek-kakek sebelah, ibu muda yang memeluk bayinya, seorang Ibu yang tadinya bersepeda pun menghentikan sepedanya, berhenti menunggu gempa berhenti. Namun bukannya berhenti, gempa malah semakin kuat. 

Bahkan kakek sebelah rumah saya berkata, "ini gempa terkuat yang pernah saya alami," padahal dia orang Jepang, dan sudah cukup berumur.

Gempa sedikit mereda, papa kembali ke dalam rumah sebentar, mengambil "tas bencana" yang telah dipersiapkannya sejak lama. Bilal saya gendong sambil duduk, mengingat kandungan yang semakin besar. Alhamdulillah, bukannya takut, Bilal malah ikut heboh, "empa, empa", katanya.

Saat gempa susulan yang masih berkekuatan besar tiba, Papa sudah bersama kami di pinggir jalan.

"Sebaiknya jangan berada di dekat bangunan," kata sang kakek
"Apa kita ke taman tempat pengungsian itu saja?" Tanya Papa.
"Tidak usah terlalu panik dulu," jawab sang kakek.

Alhamdulillah gempa susulan yang cukup besar pun berhenti. Setelah itu beberapa gempa susulan berkekuatan lebih kecil masih sering muncul, maka kami belum melepaskan kewaspadaan. Setelah mengenyangkan perut, kami berangkat ke taman yang ditunjuk sebagai tempat pengungsian sementara seandainya perlu mengungsi. Sampai disana ternyata cukup banyak orang yang mengungsi, padahal suhu diluar saat itu termasuk rendah.

Tiba-tiba, dari speaker taman, ada pengumuman bahwa pukul 16.30 JST nanti akan ada tsunami, jadi pemerintah menghimbau masyarakat agar tidak berada di dekat pantai, karena kebetulan beberapa km dari tempat itu ada sungai yang cukup besar. Kami putuskan agar menunggu hinggal pukul 16.30 lewat, baru kembali ke rumah. Sambil menunggu, Bilal bermain di taman, disertai gempa-gempa susulan yang belum juga berhenti. Suhu saat itu sangat rendah, jadi tak lama, saya mengajak Papa untuk segera pulang, apalagi hujan mulai turun.

Sampai di rumah, TV langsung kami nyalakan. Benar saja, berita di TV langsung dipenuhi topik gempa kuat yang tadi baru saja terjadi. Ternyata di daerah lain dekat pusat gempa, terjadi tsunami yang cukup tinggi.

Kami langsung mencoba menghubungi keluarga di Indonesia, mengabarkan bahwa kami baik-baik saja, agar keluarga tidak khawatir, apalagi saat itu di Indonesia keluarga Papa mungkin sedang ke pemakaman yangkung yang meninggal kamis malam. Saat itu saluran telepon sedang sulit dipakai, mungkin semua orang berpikir yang sama dengan kami, sehingga saluran telepon penuh. Saya coba berkali-kali menghubungi adik saya, alhamdulillah sempat tersambung satu atau dua kali.

Malam itu kami pindahkan futon ke depan TV, kami tidur disana. Kami tak berani mematikan TV, entah akibat trauma gempa atau sekedar ingin mendapatkan berita terbaru. Bahkan kami tidur dengan pakaian siap mengungsi, lengkap dengan kaos kaki dan jilbab untuk saya.

Saat itu saya belum tahu, ada satu lagi kejadian besar yang sedang berlangsung di Jepang bagian utara...

Friday, March 25, 2011

Gempa & Tsunami Jepang, 11 Maret 2011, bagian 1: The Beginning

Posted by Ly at 3/25/2011 01:22:00 AM 2 Comments
Jumat, 11 maret 2011.

Papa ambil cuti sehari demi temani saya periksa bulanan ke dokter kandungan. Biasanya saya ke dokter sendiri berdua sama Bilal, tapi kali ini kebetulan jadwalnya screening USG, periksa detail dedek di perut saya, jadi sekalian mau ngajak Papa ngobrol sama dokternya. Screening selesai, tinggal tunggu penjelasan hasilnya dari dokter. Tapi, ketika akhirnya dipanggil lagi untuk dengar penjelasan dokter, Bilal menangis. Akhirnya, sambil menyerahkan buku Ibu-Anak, sang dokter berkata, "hasilnya bagus, nggak ada yang nggak normal, jadi bisa langsung selesai". Yep, saya langsung "diarahkan" untuk langsung pulang. Mungkin dokter kasihan kalau Bilal menangis terlalu lama, atau mungkin juga dokter kasihan dengan pasien lain ^_^;.

Pulang dari RS, saya dan Bilal temani Papa sholat di masjid Hira. Disana saya bertemu muslimah Jepang yang ternyata bisa berbahasa Indonesia. Ternyata suami si muslimah adalah orang Indonesia, dan anaknya sudah 4 ! subhanallah, sungguh besar pahala sang suami mengislamkan istrinya. Muslimah itu mengajak kami untuk berkenalan dengan suaminya, orang Kediri. Saat bertemu dengan sang suami, saya terkejut, karena sang suami ternyata orangnya sangat rendah hati, terbalik 180 derajat dari bayangan saya, cuma gara-gara mereka datang dengan mobil. Mereka juga sempat menawari tumpangan sampai tempat terdekat dari rumah kami, tapi karena kami masih ada urusan di Kantor Kelurahan, jadi kami tolak.

Mumpung libur, Papa menyelesaikan beberapa urusan di Kantor Kelurahan yang tidak bisa diselesaikan di akhir minggu (karena kantor kelurahan tutup di akhir minggu). Karena dokumen yang diperlukan tertinggal dirumah, jadi kami pulang dulu, baru nanti Papa kembali lagi.

Sampai rumah, Papa yang ingin segera menyelesaikan urusan tertunda itu, cepat-cepat mengumpulkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Tanpa istirahat, bahkan tanpa makan dulu, papa segera keluar rumah, menyiapkan sepeda untuk berangkat lagi ke Kantor Kelurahan.  "Assalaamu'alaykum," pamit Papa. Belum sempat mengendarai sepeda, pintu rumah dibuka dari luar, "Cinta, ada yang ketinggalan...."

Lalu tiba-tiba, kejadian bersejarah itu datang...
Awal dari rentetan kejadian yang sampai saat ini masih terus berlanjut itu dimulai.....

(bersambung ke Bagian II)

Thursday, February 24, 2011

Alhamdulillah..what next?

Posted by Ly at 2/24/2011 10:37:00 PM 6 Comments
Alhamdulillah akhir2 ini banyak hal yang harus disyukuri yang terjadi pada saya dan keluarga. Pertama, alhamdulillah sekarang saya sedang mengandung adiknya Bilal, meramaikan baby boom di Tokyo dan sekitarnya. Usia kandungan sekitar 4 - 5 bulan-a, prediksinya insya Allah bulan Juli ^o^.

Alhamdulillah awal Februari lalu dapet pengumuman tentang hasil JLPT yang saya ikut lagi bulan Desember tahun lalu. Dan alhamdulillah lulus, akhirnyaa.. Padahal saya sudah membayangkan akan mencoba lagi N1 di bulan Juli dengan perut super besar. gara-garanya, ikutan JLPT Desember kemarin itu super nekat. Habis, sudah tahu testnya susah, tapi belajarnya angin-anginan. Meskipun menurut saya hasilnya pas-pasan sekali, suami saya (mungkin menghibur) bilang itu cukup lumayan, malah mungkin suami lebih girang dari saya.. Saya sih senengnya karena bisa bikin suami seneng, dan nggak buang-buang 6000 yen lagi (soalnya di percobaan JLPT pertama bulan Juli tahun lalu, saya gagal).

Alhamdulillah Allah masih memberi banyaaaak nikmatNya pada saya dan keluarga saya. Masih bisa bernafas, masih bisa introspeksi, masih bisa belajar, masih bisa makan cukup, masih bisa merasakan salju di Chiba, masih bisa menikmati perkembangan anak saya yang akhir2 ini semakin ngegemesin. Jadi, apa lagi yang bikin kita nggak bersyukur dengan rentetan nikmat yang Allah berikan pada kita?

"Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan"
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Hmm, selanjutnya apa yah..melaksanakan amanah2 yang tertunda dulu deh..
 

Stasiun Kenangan Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez