Friday, April 8, 2011

Resensi Buku: Mommy Told Me Not To Tell, By: Cathy Glass

Posted by Ly at 4/08/2011 04:26:00 PM 0 Comments
Addicted.

Ya, mungkin itu satu kata yang cukup menggambarkan perasaan saya sekarang, setelah membaca novel ini. Novel ini sendiri mungkin tidak sehebat itu sehingga bisa membius saya untuk sampai kecanduan dan ingin segera membaca novel bahasa inggris yang lain. Lihat kata-kata yang saya garis bawahi dalam kalimat saya diatas? ya, novel bahasa inggris yang lain

Seperti sudah tahunan rasanya saya melupakan perasaan itu, perasaan tenggelam dalam dunia yang ada dalam sebuah buku. Dulu saat masih kuliah, saya suka baca novel. Bahkan Taiko karya Eiji Yoshikawa terjemahan bahasa Indonesia yang tebal dan beratnya mungkin cukup untuk membuat copet benjol kalau kena timpuk, bisa saya selesaikan dalam waktu yang cepat (hiks, sekarang bukunya dimana yah..adakah yang merasa pinjam??). Tetapi sejak menikah dan tinggal di negeri berbahasa Jepang ini, saya seperti lupa nikmatnya menjadi bagian dalam sebuah cerita di sebuah buku. Bukan, bukan karena saya sibuk mengurus anak atau suami. Suami saya tidak gendut, dan anak saya termasuk kurus, jadi untuk apa dikurusi? Ehehe, bukan itu maksudnya. Kewajiban sebagai seorang istri dan ibu insya Allah bisa dijalankan bersamaan dengan melaksanakan hobi, apalagi hobi membaca buku. Tetapi entah kenapa, kesibukan yang nggak jelas bentuknya membuat saya jauh dari buku. Pernah beberapa kali saya menamatkan beberapa buku bahasa Jepang disini, tapi tetap saja, hanya sekedar buku ringan, bukan novel, karena saya "takut" tidak bisa mengerti kanjinya dengan benar. 

Sudah, cukup intronya, sekarang lanjut ke resensi buku ^_~



cropped from a bigger picture =P
Mummy Told Me Not To Tell
Awalnya saat membaca judul dari buku ini, saya merasa ceritanya agak sedikit depresif, seperti A Child Called It karya Dave Pelzer. Kedua buku ini mungkin sama-sama diangkat dari sebuah kisah nyata seorang abused child oleh keluarganya sendiri. Tetapi, berbeda dengan A Child Called It yang banyak menceritakan bagaimana sang anak disalahgunakan (saya tidak bisa menemukan terjemahan yang lebih tepat untuk "abused") oleh orang tuanya, bagaimana penyiksaan orang tua kepada sang anak, Mummy Told Me Not To Tell lebih bercerita dari sudut pandang seorang foster carer, seorang pengasuh anak sementara dalam waktu yang ditentukan.

Cathy Glass telah menjadi seorang foster carer selama lebih dari 20 tahun. Cathy telah mengasuh berbagai macam anak dengan berbagai macam latar belakang dan keluarga, karena itu dia adalah seorang profesional dalam bidangnya. Maka mungkin hal ini yang membuatnya dipilih untuk mengasuh Reece (7th), seorang anak dengan latar belakang yang kelam, dan keluarga yang cukup bermasalah, oleh agennya. Sebagai seorang carer yang berpengalaman, Cathy mengerti bahwa setiap anak spesial, dan menerima mereka apa adanya. Adalah keluarga dan lingkungan yang membentuk pribadi anak, meskipun setiap anak mempunyai sifat bawaan masing-masing. Cathy merawat dan mendidik anak-anak yang dipercayakan padanya dengan kasih sayang dan kedisiplinan yang konsisten. Begitu juga terhadap Reece. Reece yang awalnya agak 'bermasalah', perlahan-lahan menjadi 'terarah' dalam asuhan Cathy.

Perkembangan yang terjadi pada diri Reece, latar belakang keluarganya, penerimaan lingkungan (sekolah) terhadap Reece, serta akhir dari pengasuhan Cathy terhadap Reece diceritakan buku ini dengan bahasa yang mudah. Saya pernah menemukan novel berbahasa inggris yang lebih sulit dari ini (dan belum saya selesaikan sampai sekarang!! ehehehe, ketinggalan di Indonesia soalnya..). Tidak hanya alur cerita yang saya dapat dari buku ini, tapi juga pelajaran mendidik anak dari seorang pengasuh yang berpengalaman.

Buruan selanjutnya: Damaged, masih karya Cathy Glass ^_^ (kemarin ada juga di Kinokuniya, tapi karena takut nggak kebaca kalau beli kebanyakan, jadi belinya satu-satu..)

Wednesday, April 6, 2011

Kalap di Kinokuniya Pusat, Shinjuku

Posted by Ly at 4/06/2011 05:13:00 PM 4 Comments
klik gambar untuk tampilan lebih besar

Maksudnya benar-benar kalap !!

Misi ke Kinokuniya kali ini adalah beli buku bahasa Inggris untuk Bilal. Sudah lama saya ingin "berburu" buku anak berbahasa Inggris di Kinokuniya, kebetulan weekend kemarin kami masing-masing nggak ada acara khusus, jadi direncanakan ke Kinokuniya pusat di Shinjuku. Iseng-iseng cari sale/bazarnya Kinokuniya, saya browse situs Kinokuniya, ternyata kebetulan tanggal 2-3 April 2011 lalu ada bazar buku asing murah, bazar amal untuk tragedi bencana Jepang Timur lalu. Karena tanggal 2nya saya sudah ada janji dengan dokter kandungan, jadi "pemburuan" kami nggak bisa benar-benar maksimal. Akhirnya, dengan persiapan hati bahwa buku anak di bazar sudah habis dibeli orang, kami berangkat ke Shinjuku tanggal 3, hari minggunya. Dan benar, sebagian besar buku anak yang tersisa kurang menarik, alhamdulillah kami dapat 4 buku anak; 1 salah beli, 1 untuk Bilal, dan 2 lagi untuk adek di perut ^_^;.

Pemburuan kami lanjutkan ke lantai 7 Kinokuniya Pusat di Shinjuku itu, lantai khusus buku berbahasa asing. Dan saya benar-benar senang berada di sana, seperti berada di ruang harta karun! Akhirnya kami memborong 11 buku anak, 2 buku untuk Papa, dan 1 buku untuk saya. Agak mahal memang, tapi insya Allah saya tidak menyesal (kecuali 1 buku yang saya beli di bazar tadi), dan belum puas *cengir*, apalagi Bilal suka dengan beberapa buku yang kami beli, padahal 3 dari buku anak yang kami beli adalah untuk anak 3 tahun keatas..

Karena semua buku cukup berat kalau langsung dibawa pulang, akhirnya kami minta dikirim ke rumah, dan membawa pulang beberapa buku saja untuk bekal di kereta. Dan akhirnya kemarin paket itu tiba ^o^ ^o^. Seperti biasa, Bilal selalu senang menerima apa saja yang dibawa kurir, apalagi kali ini kurir mengantarkan paket yang cukup besar dan berat.

Ini list buku yang kami beli:
  1. Picture Atlas (Lift-the-flap, Usborne)  -> pilihan Papa
  2. Jobs People do (By: Jo Litchfield and Felicity Brooks, Usborne) -> direkomendasikan teman
  3. Science (Look inside, Usborne)
  4. Let's Help The Earth (Sesame Street)
  5. Thomas And The Hide-And-Seek Animals (Thomas & Friends)
  6. I Am a Fire Truck (Scholastic) -> pilihan Papa
  7. Happy Easter, Sprinkles (Blue's Clues) ->; dari bazar
  8. Big Trucks and Diggers (Hide and seek, Caterpillar) -> dari bazar
  9. Animals (Baby touch and feel, DK Publishing)
  10. Busy Little Harbour (With Felt Flaps, Campbell Books) -> dari bazar
  11. Playtime (touch and feel, Priddy Books) -> dari bazar
  12. Understanding Business Accounting for Dummies -> dari bazar
  13. 経済のことよくわからないまま社会人になってしまって人へ (By: 池上彰, 海竜社)
  14. Mummy Told Me Not To Tell (By: Cathy Glass, Harper Collins)
Maaf, tidak semua judul buku diatas ada linknya. Silahkan cari, kalau anda ingin tahu seperti apa bukunya. 

Buku no.1-3 untuk anak umur 3 tahun keatas. Bilal suka buku no.2 dan 3 (buku no.1 masih dibungkus plastik, dan nggak saya buka dulu sementara ^_^;). Rencananya mau memberi 3 buku itu sebagai hadiah untuk Bilal nanti kalau usianya sudah cukup, sambil terus dibacakan, itu juga kalau Bilal mau saja. Buku nomer 4-6 dan 8-10 juga Bilal suka. Papa suka dengan buku karya Ikegami Akira, 'memang mudah dimengerti', katanya. Saya juga tidak menyesal dengan novel non fiksi pilihan saya (Mummy told me not to tell). Tapi yang saya paling senang tentunya adalah, Bilal suka dengan buku-bukunya ^o^ ^o^. Mudah-mudahan ada rejeki lagi untuk membelikan buku untuk Bilal dan adik-adiknya, jadi bisa mendekati mimpi saya untuk punya perpustakaan kecil-kecilan di rumah nanti..^o^

Saturday, April 2, 2011

Our Own Time

Posted by Ly at 4/02/2011 10:59:00 AM 0 Comments
2010, autumn







Yah, waktu untuk diri kita sendiri. Kenapa saya tiba-tiba ngomongin ini? karena akhir2 ini saya "baru sadar" kalau saya secara tidak sadar (jadi sebenernya sadar ato enggak, nih? ^_^;) berusaha membuat waktu untuk diri sendiri.

Saat kita menjadi seorang Ibu, "usia keibuan" kita juga seumur dengan usia anak kita. Kalau anak kita berumur 1 tahun, berarti kita juga baru berumur 1 tahun sebagai seorang Ibu. Kita maupun anak sedang sama-sama belajar menjadi manusia baru. Bedanya, kita bisa mempelajari ilmunya dari berbagai sumber, sambil disertai trial and error, sedangkan anak kita hanya belajar dari pengalaman, trial and error. Karenanya, tugas kita sebagai ibu adalah membimbing si anak mempelajari perannya.

Menurut saya, seorang ibu baru benar-benar menikmati perannya sebagai seorang ibu hingga sang anak berusia 1 tahun lebih, atau hampir 2 tahun. Bukan, bukan berarti setelah usia anak 2 tahun, seorang ibu mulai bosan dengan perannya, apalagi bosan dengan anaknya. Semua pengalaman yang dialami si ibu adalah hal baru, dia akan mencoba belajar sambil mempraktikkan hal-hal baru itu sampai suatu masa tertentu. Pada suatu masa, saat seorang ibu mulai terbiasa dengan perannya, mulai bisa curi-curi waktu untuk menyelami kembali hobi-hobinya. Dan masa itu adalah ketika si anak berusia 2 tahun, ketika si anak mulai mandiri, juga ketika si ibu mulai lihai menjalani perannya.

Seperti yang sedang saya alami. Akhir2 ini saya mulai kembali menyelami hal-hal yang sebelumnya pernah saya sukai, hobi-hobi kecil yang saat melakukannya membuat saya lupa waktu.

Bukan berarti sebelumnya nggak bisa sama sekali sih. Sebelumnya, saat jam tidur Bilal masih teratur, saya selalu memanfaatkan jam tidur Bilal itu (yang ternyata nggak pendek!!) untuk hobi-hobi saya. Tapi akhir2 ini saat Bilal mulai besar, jam tidurnya nggak lagi teratur. Kadang siang tidur, kadang enggak. Kadang tidurnya pas tengah hari, kadang sore hari. Jadi sekarang saya harus pintar-pintar mencuri waktu. Bahkan, waktu setelah Papa pulang kantor juga bisa saya manfaatkan, karena Bilal pasti ingin main dengan Papanya, sepulang  kantor (habis kalau main sama mama nggak bisa diangkat-angkat siiyy..=P). Seperti saat ini, Papa sedang ke THT, minta obat untuk pollen allergynya sambil mengajak Bilal, nah waktu seperti ini bisa saya manfaatkan untuk beres-beres sambil menulis ^o^ (tapi koq kelamaan nulisnya nih kayaknya..).

Jadi kesimpulannya, meskipun kita sudah berkeluarga dan memiliki anak, sebaiknya kita bisa tetap menjalankan hobi-hobi kita. Nanti bukan hanya kita yang akan untung, tapi juga anak dan suami. Karena kalau kita suntuk dengan pekerjaan rumah, yang akan "kecipratan" suntuk dari kita adalah suami dan anak kita juga. Tapi, jangan sampai kita berlebihan jugaa menjalankan hobi-hobi kita, bisa-bisa nanti keluarga kita terlantar..^_^

Btw, pendapat saya ini adalah pendapat seorang ibu yang nggak dibantu asisten dirumah, saya nggak pernah pakai asisten (gimana caranya pakai asisten rumah di sini?? ^_^;), jadi mungkin beda lagi untuk ibu yang dibantu asisten..^_^

Wednesday, March 30, 2011

Tofu Hanba-gu*

Posted by Ly at 3/30/2011 07:08:00 PM 0 Comments
* Hanba-gu Tahu.

Ceritanya mau masak itu, tapi entah kenapa sampai sekarang masih agak males berangkat ke dapur. Dingiiiin (padahal tadi siang anget T_T).
Yosh, ayo masaaaakk..!! secara udah dapet bocorannya juga dari cookpad. Mau tau resepnya? nanti dulu yah, saya coba dulu di dapur Shioyaki..^_^

Maaf, tiba-tiba saya tidak bersemangat menulis resepnya, jadi nggak jadi saya share yah..v_v

うそ?ほんとう?
(Uso/False? Hontou/True?)

Posted by Ly at 3/30/2011 10:10:00 AM 4 Comments
2010, summer festival
うそ?ほんとう?
Makan yang gosong-gosong bisa menyebabkan kanker?

うそ?ほんとう?
Baca di tempat yang gelap bisa merusak mata?

Berhubung yang tadi minta dimandiin udah tidur siang, jadi, mari kita lanjutkan pembahasan postingan ini..(berasa banyak nyang nungguin ajah..=P)

Makan yang gosong-gosong bisa menyebabkan kanker.....jawaban anda? True? False?
Yep, anda benar, It's True !!
Tapi, itu benar secara teori. Sedangkan praktiknya, sepertinya belum ada yang benar-benar meneliti tentang hal ini.

Baca di tempat yang gelap bisa merusak mata?.....jawaban anda? True? False?
Sayang sekali, kali ini anda salah, It's not true !!
Menurut para ahli, belum ditemukan hubungan antara membaca di tempat yang gelap dengan mata yang rusak, bahkan katanya rumor ini tidak benar. Tapi, kata dokter yang menjawab, meskipun tidak merusak mata, membaca di tempat yang gelap tidak dianjurkan untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Sebenarnya masih banyak pembetulan dari rumor2 yang beredar di acara yang saya tonton, tapi saya lupa euy..ingetnya sepotong2 aja..ga enak kan kalau ngasih info setengah2..nanti takutnya cuma jadi gosip..^_^;

Sumber : TV, dibahas langsung oleh para ahlinya.
Hmm, mungkin satu hal yang akan saya rindukan kalau saya pindah dari Jepang for good adalah acara-acara pendidikan yang bertebaran di TV sini. Yah, semoga suatu saat nanti banyak acara TV yang mendidik di Indonesia, biar nggak melulu sinetron sinis atau gosip nggak penting yang bertebaran di TV Indonesia..

Tuesday, March 29, 2011

Gempa & Tsunami Jepang, 11 Maret 2011, bagian 2: Gempa Terbesar Sepanjang Hidup Saya (sampai saat ini)

Posted by Ly at 3/29/2011 02:52:00 PM 6 Comments
Belum sempat mengendarai sepeda, pintu rumah dibuka dari luar, "Cinta, ada yang ketinggalan...."
(Selengkapnya, baca: "Gempa & Tsunami Jepang, 11 Maret 2011, bagian 1: The Beginning)

Tak lama setelah Papa membuka pintu rumah, bumi bergoyang. Kami saling menatap selama beberapa saat, seakan mata kami bercakap-cakap dalam hening kata-kata. Kami menunggu, menunggu bumi berhenti bergerak. Gempa bukanlah hal yang jarang ditemukan di Bumi Sakura ini, hampir jadi sarapan rutin bulanan kami, karenanya, kami menunggu gempa itu berhenti sambil saling bertatap. Lama kami menunggu, bukannya melemah, gempa itu malah semakin kuat. Tanpa sadar, saya sudah memeluk Bilal, berjaga-jaga seandainya kami harus mengungsi keluar rumah.

"Cinta, ayo keluar, bawa selimut dan jaket Bilal."  Seru Papa tanpa menyembunyikan kekhawatirannya.

Untung saja saya belum sempat berganti pakaian, bahkan jaket musim dingin masih melekat di tubuh saya. Bilal pun baru melepaskan jaketnya saja, belum berganti baju rumah, jadi segera saja  saya gendong Bilal, saya sambar jaket dan sepatu Bilal, saya kenakan sepatu saya, lalu keluar rumah, menunggu bumi berhenti bergoyang. 2 menit, 3 menit, bumi masih terus bergoyang. Tetangga pun mulai keluar rumah. Kakek-kakek sebelah, ibu muda yang memeluk bayinya, seorang Ibu yang tadinya bersepeda pun menghentikan sepedanya, berhenti menunggu gempa berhenti. Namun bukannya berhenti, gempa malah semakin kuat. 

Bahkan kakek sebelah rumah saya berkata, "ini gempa terkuat yang pernah saya alami," padahal dia orang Jepang, dan sudah cukup berumur.

Gempa sedikit mereda, papa kembali ke dalam rumah sebentar, mengambil "tas bencana" yang telah dipersiapkannya sejak lama. Bilal saya gendong sambil duduk, mengingat kandungan yang semakin besar. Alhamdulillah, bukannya takut, Bilal malah ikut heboh, "empa, empa", katanya.

Saat gempa susulan yang masih berkekuatan besar tiba, Papa sudah bersama kami di pinggir jalan.

"Sebaiknya jangan berada di dekat bangunan," kata sang kakek
"Apa kita ke taman tempat pengungsian itu saja?" Tanya Papa.
"Tidak usah terlalu panik dulu," jawab sang kakek.

Alhamdulillah gempa susulan yang cukup besar pun berhenti. Setelah itu beberapa gempa susulan berkekuatan lebih kecil masih sering muncul, maka kami belum melepaskan kewaspadaan. Setelah mengenyangkan perut, kami berangkat ke taman yang ditunjuk sebagai tempat pengungsian sementara seandainya perlu mengungsi. Sampai disana ternyata cukup banyak orang yang mengungsi, padahal suhu diluar saat itu termasuk rendah.

Tiba-tiba, dari speaker taman, ada pengumuman bahwa pukul 16.30 JST nanti akan ada tsunami, jadi pemerintah menghimbau masyarakat agar tidak berada di dekat pantai, karena kebetulan beberapa km dari tempat itu ada sungai yang cukup besar. Kami putuskan agar menunggu hinggal pukul 16.30 lewat, baru kembali ke rumah. Sambil menunggu, Bilal bermain di taman, disertai gempa-gempa susulan yang belum juga berhenti. Suhu saat itu sangat rendah, jadi tak lama, saya mengajak Papa untuk segera pulang, apalagi hujan mulai turun.

Sampai di rumah, TV langsung kami nyalakan. Benar saja, berita di TV langsung dipenuhi topik gempa kuat yang tadi baru saja terjadi. Ternyata di daerah lain dekat pusat gempa, terjadi tsunami yang cukup tinggi.

Kami langsung mencoba menghubungi keluarga di Indonesia, mengabarkan bahwa kami baik-baik saja, agar keluarga tidak khawatir, apalagi saat itu di Indonesia keluarga Papa mungkin sedang ke pemakaman yangkung yang meninggal kamis malam. Saat itu saluran telepon sedang sulit dipakai, mungkin semua orang berpikir yang sama dengan kami, sehingga saluran telepon penuh. Saya coba berkali-kali menghubungi adik saya, alhamdulillah sempat tersambung satu atau dua kali.

Malam itu kami pindahkan futon ke depan TV, kami tidur disana. Kami tak berani mematikan TV, entah akibat trauma gempa atau sekedar ingin mendapatkan berita terbaru. Bahkan kami tidur dengan pakaian siap mengungsi, lengkap dengan kaos kaki dan jilbab untuk saya.

Saat itu saya belum tahu, ada satu lagi kejadian besar yang sedang berlangsung di Jepang bagian utara...
 

Stasiun Kenangan Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez